Edisi.co.id – Program di bidang kesehatan Sinergi Foundation, Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC) miliki strategi untuk naikan level penerima manfaat yang mereka sebut member. Strategi tersebut terangkum dalam program Gerakan Ibu Peduli (GIP).
“Sejak tahun 2022, Gerakan Ibu Peduli bertujuan untuk melatih kesadaran ibu dhuafa dan keluarganya untuk membiasakan berinfak atau bersedekah,” kata Marketing Komunikasi, Fantria Ayuning via WhatsApp, Rabu (19/6).
Lebih jauhnya, gerakan ini mencoba membangun nilai-nilai syukur dan empati terhadap sesama ibu. Meskipun kondisi yang dihadapi berbeda-beda.
“Dari Gerakan ini diharapkan dapat membangun rasa syukur dalam keadaan apapun, rasa empati terhadap sesama manusia dan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT,” lanjut Ayu, sapaan akrabnya.
Mekanismenya, GIP ini sifatnya sukarela. Siapa saja member yang ingin bergabung diperbolehkan. Nantinya akan ada sosialisasi dari RBC mengenai program GIP ini, setelah itu member akan membawa kencleng untuk mereka isi dan stor ke RBC di kemudian hari.
“Gagasan besarnya GIP ingin menjadi wadah bagi para member untuk bertransformasi dari member menjadi donatur,” jelasnya.
Buka Keberkahan dan Kemudahan
Ayu menceritakan ada satu member yang mentestimonikan manfat program GIP ini. Member tersebut adalah Elis. Usianya menjadi member baru seumur jagung. Tepatnya saat Ramadan 2024 kemarin.
Dengan gerakan GIP tersebut, Elis tertarik untuk belajar bersedekah. Meskipun ia pun menyadari, nominal yang bakal terkumpul tak akan seberapa. Tekad dan kegigihannya itu pun Elis buktikan kala datang ke RBC untuk kontrol.
“Ibu Elis datang untuk control kesehatan sekaligus mau ngasih kencleng yang udah dia isi kurang lebih 2 bulanan,” cerita Ayu.
“Setoran” pertamanya itu diiringi dengan untaian cerita. Cerita tersebut yakni ada banyak kemudahan yang ia rasakan setelah niatkan diri untuk bersedekah melalui GIP.
Kemudahan pertama keluarga yang beralamat di Cigondewah, Kabupaten Bandung ini mana kala sang suami mendapat kerja setelah sekian lama menganggur. Elis cerita, meskipun pekerjaan sebagai kuli bangunan yang notabene waktunya singkat, tapi setelah itu ada tawaran lagi.
“Tadinya dia (suami) pura-pura pergi ke luar biar kayak ada kerjaan karena malu anak-anaknya minta uang terus tapi gak bisa ngasih,” kata Elis.
Kemudahan berikutnya ketika anak ibu berusia 32 tahun ini yang pesimis akan masuk SMP terdekat melalui sistem zonasi. Tiba-tiba selang beberapa hari ia mendapat kabar dinyatakan lulus.
“Padahal tadinya udah gak ada harapan,” ungkap Elis.
Kemudian keajaiban yang ketiga ketika anaknya yang tengah duduk di bangku SD terancam tak bisa ujian lantaran miliki tunggakan. Namun di detik-detik menjelang ujian, ada kabar tunggakannya telah tuntas.
“Allah baik banget sama saya teh, rezeki itu ternyata bukan cuma uang. tapi kemudahan kayak gini yang tadinya bikin saya sedih alhamdulillah Allah kasih kemudahan,” pungkas Elis seraya kedua bola matanya berkaca-kaca menahan tangis.***